Wisata Religi

Kampung Mirip Madinah Di Jawa Timur, Saat Adzan Berkumandang Aktivitas Berubah

Radar-INews, Magetan – Kampung Mirip Madinah, Seperti misalnya menghentikan segala Kesibukan atau aktivitas di saat adzan berkumandang. Suasana tersebut terlihat Di Desa Temboro Wilayah Kabupaten Magetan,  Jawa Timur.

Mayoritas seluruh warganya pergi ke masjid atau surau desa untuk beribadah. Sejenak kemudian, suasana jalan desa yang ramai oleh lalu lalang orang perlahan mulai sepi.

“Kalau sudah adzan jalan mulai sepi, kami tutup sebentar untuk salat dzuhur. Jam 1 nanti baru buka lagi,” ujar salah satu Pedagang sambil menutup pintu toko dagangannya.

Today hanya satu pedagang, karena beberapa pedagang baju muslim yang membuka lapak di sepanjang jalan menuju pondok pesantren juga turut ketiban rezeki.

Desa Temboro sejak puluhan tahun silam memang terkenal dengan julukan Kampung Madinah. Julukan tersebut muncul karena pakaian yang digunakan oleh penduduk temboro seperti pakaian masyarakat Arab.

Menggunakan busana jubah dan penutup kepala bagi Kebanyakan kaum Adam atau Pria, sementara bagi kaum Hawa atau perempuan menutup seluruh tubuhnya dengan pakaian warna gelap dan sebagian besar menggunakan cadar.

Gaya busana tersebut telah menjadi bagian Tradisi kehidupan sehari-hari warga Desa Temboro.

“Berpakaian seperti Kebanyakan Orang Arab karena orang sini pendidikan agamanya kuat. Mereka mengamalkan ilmunya itu,” ujar Kepala Dusun Temboro, Ulul Azhar kepada Media

Keberadaan Pondok Pesantren Al Fatah Temboro, menurut Ulul Azhar tidak dipungkiri membawa perubahan besar terutama kebiasaan berbusana tertutup hingga sampai saat ini.

Selain itu,  seolah bebas Macet serta polusi tanpa ASAP dari Knalpot dimana kebiasaan  lain yang berubah adalah banyak warga yang beraktivitas jalan kaki baik ke masjid maupun ke pasar.

Tak heran jika sepanjang jalan Desa Temboro dipenuhi lalu lalang warga yang berbusana seperti di Arab.

Baca Juga >>  MURWOKOLO, PAGELARAN WAYANG KULIT PADA ACARA SEDEKAH  BUMI  DUSUN NGEGRENG, DESA PAMOTAN

Selain busana yang khas, masjid dan surau di wilayah Desa Temboro menurut Ulul Azhar selalu penuh jemaah saat masuk waktu sholat.

Semua kegiatan warga mulai perdagangan hingga perkantoran akan berhenti sejenak saat adzan dikumandangkan. Ditambahkan lagi “Biar subuh, seluruh masjid di sini penuh dengan jemaah yang sholat. Seluruh warga di sini beragama Islam dan kami mau mengamalkan ajaran agama,” imbuhnya.

Meski berada dalam kawasan Pondok Pesantren Al Fatah, warga Temboro mempunyai kegiatan sendiri.

Menurut Ulul Azhar, saat bulan Ramadhan, 29 masjid dan surau di Desa Temboro melakukan sholat tarawih dengan bacaan Al quran satu juz setiap malamnya.

“Kalau di pesantren ada yang sholat tarawih khataman. Kalau di seluruh masjid kampung sini, salat tarawihnya khatam satu juz setiap malam,” katanya.

Warga Desa Temboro juga rutin menggelar pengajian setiap Malam Jumat tepatnya pada Kamis malam setelah maghrib.

Sementara itu, setelah sholat isya, banyak warga yang melalukan taklim dan dzikir serta berkunjung pada warga yang tidak hadir saat pengajian.

Mereka juga akan menggelar pengajian besar saat memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia dengan mengundang grup kesenian islami.

“Paling ramai kalau 17-an. Selain pengajian juga ditampilkan grup kesenian barzanji,” kata Ulul Azhar.

Belum diketahui secara pasti berapa jumlah santri yang mondok di Pondok Al Fatah Temboro, karena selain santri pemula, ada juga santri yang hanya mondok dalam hitungan bulan.Namun diperkirakan ada 15.000 santri yang menuntut ilmu di pesantren tersebut.

Hampir 50 persen lahan Desa Temboro untuk Kegiatan pesantren, dengan memiliki luas wilayah lebih dari 517 hektar dan 40 persen lahan merupakan kawasan yang digunakan untuk kegiatan pondok pesantren.(Kontr/Alul)

Baca Juga >>  TRADISI di SUCI, Rebo Wekasan
Mohon Bagikan Juga